just_a_girl_book_cover

▣ Acara UC Berkeley Colonial and Post-Colonial Connections in Dutch Literature

ditulis oleh admin on September 29th, 2011 at 3:08 PM

12 Ulasan-ulasan added to this post

No Tags Currently Defined

    

Pada akhir minggu yang lalu, saya menghadiri pertemuan yang diadakan oleh kampus UC Berkeley. Acara di hadiri oleh guru-guru besar universitas-universitas tersohor dari negeri Belanda yang membahas Colonial and Post-Colonial Connections in Dutch Literature  - Hubungan antara sastra dengan tulisan Belanda pada massa pendudukan kekuasaan mereka dan sesudahnya.

 

 

Pertemuan ini menyajikan ulasan beberapa karya penulis Belanda serta keadaan masyarakatnya pada saat dan sesudah masa kekuasaan Belanda di Indonesia.

 

Cukup pantas bahwa dari pertemuan yang memakan waktu tiga hari, satu hari disisihkan hanya untuk memperbincangkan soal-soal mengenai Indonesia sebagai daerah jajahan terbesar dari kerajaan Belanda.

 

Beberapa judul dari sepuluh ceramah yang disajikan menarik sekali. Di antaranya adalah, kisah tentang apa yang terjadi di penjara Boven Digoel, Irian Barat, Suara perikemanusiaan pada waktu penjajahan, Kemunculan tulisan Indo - Eropa untuk anak-anak, “Terjepit di antara Nasi dan Kentang.”

 

Ceramah-ceramah menawarkan banyak keterangan yang tidak akan didapat dari Google. Sebagian kecil dari guru-guru besar yang "asli Belanda" itu terdapat juga keturunan orang Indonesia. Ada yang masih dapat berbahasa Indonesia, ada yang tidak. Tetapi dari percakapan dengan mereka saya mengerti bahwa mereka masih mengalami kerinduan pada tanah kelahiran mereka.

 

Akan tetapi ada kejadian yang membuat saya takjub hingga terheran-heran ketika beberapa guru besar asli dari Belanda yang memberikan ceramah itu justru mampu berbicara dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

 

Timbul perasaan bangga saya sebagai bangsa yang merdeka karena guru-guru besar asli Belanda itu menyesuaikan diri mereka terhadap mahasiswa Indonesia yang hadir di sana dengan menjawab menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

 

Saya merasa malu sambil merenungi keadaan aneh ini. Mengapa mereka, orang Belanda yang dahulu adalah penjajah bangsa kita, sekarang justru sangat menghormati bangsa kita dengan berbicara dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, sedangkan banyak sekali orang terpelajar, penulis, penerbit, pengacara, maupun pejabat pemerintah Indonesia tidak mau perduli menggunakan bahasa sendiri dengan hormat dan prihatin.

 

Pada zaman penjajahan kita dipaksa untuk berbahasa Belanda dengan baik dan benar, dan kita melakukan perintah itu. Kita berperang dengan Belanda untuk merebut kemerdekaan yang memberi kita hak untuk mengatur diri sendiri termasuk untuk menggunakan bahasa kita, yaitu Bahasa Indonesia. Tetapi sekarang orang Belanda  di hadapan saya ini menggunakan bahasa kita dengan baik dan benar.

 

Di lain pihak, saya melihat kenyataan di negara sendiri, kita memperkosa bahasa kita dengan menyusupkan bahasa asing di luar kebutuhan. Ini menunjukkan bahwa tidak ada kebanggaan terhadap bahasa Indonesia. Mengapa? Bukankah dengan demikian kita justru menjajah diri kita sendiri? Kita lebih bangga dengan bahasa bangsa lain, atau memang ini keinginan kita untuk menyerupai bangsa lain? Di mana kuncinya untuk memecahkan persoalan ini?

 

Apa yang harus diperbuat untuk menyadarkan kita semua sebagai bangsa  terhadap kekuasan dan kekuatan bahasa? Tanpa bahasa kita akan bisu dan kebudayaan kita akan tenggelam, keberadaan kita akan hilang.

 

Baca selandjutnya…

▣ Menantang Phoenix akan berada di UC Berkeley.

ditulis oleh admin on March 24th, 2011 at 8:59 PM

2 Ulasan-ulasan added to this post

No Tags Currently Defined

Kabar baik sekali! Perpustakaan UC Berkeley telah memesan beberapa buah buku Menantang Phoenix dan Only A Girl untuk South East Asian Collection mereka.

Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Virginia Shih serta Gail Ford atas dukungan mereka pada karya saya.

Baca selandjutnya…

▣ Peluncuran Menantang Phoenix di SF Bay Area.

ditulis oleh admin on January 21st, 2011 at 2:24 PM

9 Ulasan-ulasan added to this post

No Tags Currently Defined

 

Saya ucapkan terima kasih banyak atas perhatian kepada Bapak TB Edwin Suchradin, Konsul Penerangan dan Budaya, yang telah berkenan dan memberi kesempatan pada tanggal 29 November 2010, untuk meluncurkan buku Menantang Phoenix bertempat di ruangan lobby kantor Konsulat Jenderal RI, San Francisco. 

 

Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya saya sampaikan juga kepada yang terhormat Bapak Konsul Jenderal Asianto Sinambela dan Ibu Agustina Sinambela atas kehadiran mereka yang membuat malam itu sangat istimewa dan menjadi kenangan yang tidak terlupakan.

 

Kisah wisata karya pertama buku saya Menantang Phoenix dalam rangka peluncuran di Tanah Air tahun lalu mendapat perhatian yang cukup banyak dari para hadirin.  Pada kesempatan untuk menyampaikan pendapat yang diberikan kepada saya mengenai hal-hal yang sangat memprihatinkan, saya utarakan secara tegas seperti perembesan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, lemahnya keperdulian terhadap keselamatan bumi dan alam, serta kurangnya penghargaan terhadap diri dan negara. 

 

Pertanyaan-pertanyaan dari hadirin mengenai timbulnya ilham menulis buku serta keaslian tokoh-tokohnya dalam kisah Menantang Phoenix itu menjadi pembicaraan yang mengesankan. Sampul buku dengan gambar seorang wanita yang memakai dandanan wajah yang hebat tapi kelihatan sangat terganggu, didampingi oleh makhluk yang berupa burung phoenix campuran naga, juga memicu pembicaraan yang ramai.

 

Minuman dan makan kecil yang dihidangkan KRIS, dan risolles yang lezat rasanya disiapkan oleh Ibu Agustina malam itu, sangat dihargai dan kami nikmati bersama-sama.

 

Malam pertemuan yang sangat berkesan itu di akhiri dengan menyerahkan sebuah buku Only A Girl dan sebuah buku Menantang Phoenix dari saya kepada Bapak Asianto Sinambela untuk Perpustakaan Konsulat RI.

 

Menantang Phoenix di USA bisa langsung dioperoleh dari penulis melalui halaman Toko dari website www.liangouw.com  (tekan pada sampul Menantang Phoenix.) 

Baca selandjutnya…

▣ Pulang ke kampung halaman. /Peluncuran Menantang Phoenix.

ditulis oleh admin on December 17th, 2010 at 7:37 AM

6 Ulasan-ulasan added to this post

No Tags Currently Defined

Tanggal 5 Oktober, 2010, Menantang Phoenix, terjemahan dari Only A Girl diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama di Indonesia. 

 
Dengan hati yang berdebar-debar aku mengintip ke sudut  jendela  pesawat yang meluncur kejurusan bandara Soekarno /Hatta, Jakarta, pada tanggal 6 Oktober, 2010, pukul satu siang.   
 
 
Makin mendekat, makin terang aku bisa melihat sawah-sawah, petak-petak tanah berwarna cokelat tua dan bangunan-bangunan berbentuk aneka rupa. Perasaan ragu-ragu yang semula timbul di hatiku dalam perjalanan pulang ini, tiba-tiba berubah dan aku sadar setelah melihat pemandangan itu, aku pergi ke Indonesia bukan hanya untuk meluncurkan terjemahan buku  karyaku, Only A Girl. Aku ini pulang ke kampung halaman, membawa oleh-oleh; sebuah kisah penghidupan suatu keluarga Indonesia keturunan Tionghoa di daerah Sunda.
 
Ketika  roda-roda pesawat menyentuh  landasan, aku sadar bahwa aku telah tiba di Tanah Airku. Hatiku masih bertanya-tanya bagaimana aku akan diterima oleh orang-orang sebangsaku setelah 45 tahun meninggalkan tempat lahirku? Apakah Only A Girl  akan dapat menyesuaikan dirinya disini? Apakah Phoenix yang mendarat disampul buku melalui Gramedia akan dapat terbang di langit biru yang sekarang sedang mendung?
 
Dalam lamunan yang singkat itu, tidak terasa bagiku bahwa pesawat telah mendarat. Para penumpang mulai  berdiri berkerumun untuk turun. Aku turun terakhir sebab harus menunggu kursi roda.
 
Hawa  hangat mengelus pipiku waktu keluar dari gedung.  Kulayangkan pandangan kearah tanam-tanaman di kebun bandara.  Aneka rona perasaan masih terus  menyelimut, ketakutan, ketidak tentuan, keinginan berada disana. Hatiku bersorak, “Aku telah pulang ke Tanah Airku.”
 
Editor Gramedia dan dua orang kemenakanku telah menunggu di luar gerbang imigrasi.  Dan hal ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mengungkapkan rasa terima kasihku kepada: Oeke dan Nono Sutiknya, serta Dwi Helly Purnomo. Tanpa bantuan mereka peluncuran buku Menantang Phoenix tidak akan terjadi dan tidak akan sukses. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada  wakil Gramedia yang  telah mendampingiku selama wisata buku di Jawa, yaitu Dwi Helly Purnomo di Jakarta, Ajat di Bandung, Sisca, Yoga, Danang dan Lis di Jogya dan Wisnu dan Yaya di Surabaya.
 
Sonora Radio Jakarta
 
Majalah Eve
 
Jadwal pertama dari wisata buku di kota-kota Jakarta, Bandung, Jogya, dan Surabaya selama satu bulan, adalah presentasi di klub buku Majalah Eve. Setiba sore hari di Jakarta, kami langsung menuju ke Restoran Shanghai Blue, di daerah Kebon Sirih, tempat  acara itu diadakan. 
 
Sepanjang jalan dari bandara ke Kebon Sirih, aku heran melihat kendaraan yang begitu banyak dan membuat jalan macet karena tidak teratur. Pemandangan gedung-gedung  tinggi  berdiri berdampingan  dengan  lapak-lapak  kumuh di pinggir-pinggir jalan pun sangat membingungkan. 
 
Hujan mulai turun dan waktu mobil berhenti di depan restoran Shanghai Blue angin mengibas dan hujan lebat membuat kami bergegas ke pintu masuk. Para  kaum wanita yang hadir dan  kusebutkan di halaman persembahan, telah menunggu di lobi restoran Shanghai Blue. Mereka menyambut kedatanganku dengan hangat dan penuh minat  mengenai hasil karyaku.
 
Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dapat diketahui bahwa mereka telah membaca Menantang Phoenix dengan teliti. Malam itu sungguh-sungguh merangsang dan berakhir dengan penandatanganan buku yang cukup ramai.
            - Silahkan meninjau artikel tentang acara ini di Majalah Eve, terbitan November 2010, halaman 162-164 -
 
Selain dari acara ini, di Jakarta aku diwawancarai  oleh Majalah Kabari, (terbitan bulan November, hal.30) tampil di pameran buku IKAPI, Toko Buku Gramedia Matraman, dan di Radio Sonora.
***
GKI – Remy Sylado
 
Aku menuju Bandung dengan harapan besar. Di kota ini kisahku terjadi. Masih segar dalam ingatanku, bahwa kota ini di puji dalam nyanyian Hallo, hallo, Bandung,  sebagai ibu kota Periangan dan kota kenang-kenangan.
 
Menuju GKI Taman Cibunut dari Radio Raka di Jl. Sukajadi, kami melalui jalanan-jalanan terkenal  yang namanya masih kuingat. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi pada pohon-pohon tinggi yang sudah tua berjajar di pinggir jalan, taman-taman dan pemandangan yang indah di bagian Utara Bandung yang selama ini ada dalam ingatanku.
 
Ketika tiba di gedung GKI, aku merasa terharu sekali atas penyambutan yang diberikan karena malam itu penulis Indonesia terkenal Remy Sylado (novel terachir Namaku Matahari) hadir dan turut membahas Menantang Phoenix. Keramah-tamahan para anggota GKI dalam pertemuan tersebut, merupakan suatu kehormatan bagiku. 
 
Keesokan hari kami menuju ke puncak Tangkuban Perahu melewati kebun-kebun teh serta mengunjungi Grand Hotel Lembang – tempat bulan madunya Carolien, tokoh pertama dari Menantang Phoenix.
 
Dengan perasaan sedih, aku  mencoba mencari suatu tanda dari pemandangan indah yang selama ini tetap dalam ingatanku. Pemandangan itu begitu kuat terukir dalam ingatanku, aku dapat menulis berdasar dari itu. Tetapi, semuanya itu adalah ingatan dan kenang-kenangan indah yang telah lampau  dan sekarang hanya tinggal sejarah. Namun, aku tak dapat menerima hal-hal yang menyedihkan itu. Hatiku mulai memberontak, pertanyaan-pertanyaan mulai muncul.
 
Dengan kesal aku bertanya-tanya apakah semua kenangan indah itu hanya pencerminan kedangkalan kesejahteraan penjajahan? Betul, daerah Bandung yang hidup dalam hatiku adalah Bandung dalam zaman jajahan Belanda. Sekarang si penjajah sudah hilang selama 66 tahun. Daerah ini dihuni oleh pribumi yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia. Mereka sekarang hidup di alam merdeka, bebas dari penjajahan. Tetapi, kenapa hasil dari kemerdekaan itu masih banyak menimbulkan kerusuhan yang membuat keadaan relatif aman? Dimana rasa kasih sayang antar bangsa itu sendiri untuk membangun negara demi kesejahteraan anak cucu kita?
 
Didepanku berapa orang pemuda mengosongkan tempat untuk membuang kotoran dipinggir jalan mendekati kawah. Aku menggigit bibirku, menahan jeritan yang datang dari hatiku, “Berhenti! Jangan merusak Tanah Airku. Berhenti, itu adalah warisanmu!” Aku melipat tanganku yang ingin memukul mereka. Dalam usiaku yang mulai lanjut ini, aku belajar menahan diri agar tidak  emosionil. Aku hanya membuang muka dan menutupkan mataku.
 
Keesokan harinya aku  berharap akan ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan yang memberatkan hatiku. Jadwal adalah parawisata kota pribadi dipandu oleh Amor dari Bandung Trails
 
Amor seorang pemuda, yang selain tampan dan berpengetahuan, juga memiliki kebanggaan pada negaranya. Waktu kutanyakan kemana saja di dunia ini dia telah pergi, dijawabnya, “Bu, masih banyak daerah yang belum dikunjungi, diantaranya  Sabang dan Merauke. Bila itu sudah tercapai, baru perlu mengejar pemandangan-pemandangan lain. Tanah Air kita cukup menyajikan pemandangan-pemandangan yang istimewa!” Hatiku membesar mendengar kata-katanya.  Masih besar harapan ke depan jika masih ada orang berpikir seperti itu. 
 
Acara lain yang termasuk dalam wisata buku di Bandung diadakan di Toko Buku Gramedia Merdeka, dan kedatangan Menantang Phoenix disiarkan oleh Radio Sonora Bandung melalui talk-show.
***
 
Sanata Dharma University
 
IKAPI 

Acara yang paling memuaskan di Jogya adalah ceramah terbuka di Fakultas Sastra dari Universitas Sanata Dharma. Aku sangat berterima kasih atas penerimaan Ibu Peni yang penuh ramah tamah. Aku juga menghargai kesempatan untuk bergaul dengan para mahasiswa yang nampaknya sangat terlibat dalam seni sastra. Cukup menggembirakan bahwa mereka  menunjukkan pengertian dan bisa menerima pengamatanku tentang bahasa Indonesia yang dewasa ini menderita, akibat perembesan bahasa Inggris. Aku tiba pada kesimpulan ini setelah memperhatikan buku-buku yang dipajang di toko-toko buku serta papan-papan tanda sepanjang jalan-jalan di daerah-daerah dagang. Kebanyakan dari judul dan tanda-tanda menggunakan kata-kata bahasa Inggris, sedangkan kata-kata itu ada dalam bahasa Indonesia. Misalnya, mengapa  menggunakan Beauty Salon bukan Salon Kecantikan; Indo Market bukan Pasar / Toko Indo; Novel Histori bukan Kisah Sejarah? Aku jadi prihatin mengenai perkembangan pemakaian bahasa asing itu yang sebenarnya ada dalam bahasa Indonesia. Sampai dimana rasa tanggungjawab para cendekiawan kita untuk melindungi bahasa bangsa sendiri ? Padahal bahasa menunjukkan bangsa dan budaya. Hal ini menjadi beban berat bagiku sejak kembali ke AS setelah sebulan berada di Tanah Air.

 
Selama aku mengunjungi Jogya, Gunung Merapi sedang bersiap-siap untuk meletus. Langit sering dipenuhi asap dan udara  panas terasa menindas. Pada hari aku dijadwalkan untuk pergi ke puncak Gunung Merapi, hujan deras menghalangi perjalanan. Sebagai gantinya aku pergi mengunjungi pabrik perak dan toko batik. 
 
Kerajinan perak Jogya yang rumit  terkenal dunia, masih dilakukan secara manual. Pemandu  menyatakan dengan sedih, bahwa seni yang diwariskan dari generasi ke generasi akan mati dalam waktu yang dekat jika minat dari generasi muda semakin berkurang. 
 
Toko Gramedia Ambarukmo Plaza mengadakan acara perkenalan penulis. Aku juga mendapat  kesempatan tampil di Radio Sonora Jogya.
***
Perpustakaan C2O
 
Petra University, Toko Buku Gramedia
 
Surabaya adalah kota terakhir dari wisata bukuku. Sambutan di perpustakaan C2O sangat menyenangkan. Perpustakaan C2O adalah sebuah perpustakaan yang dikelola secara pribadi, dihargai oleh kalangan terkemuka sastrawan Surabaya. Kathleen Azali, perpustakawannya juga adalah dosen Universitas Ciputra.
 
Rekanku pada malam itu adalah Soe Tjen Marching, Ph.D terkenal sebagai penulis (novel terbaru Mati Bertahun yang Lalu) serta dosen di Universitas Airlangga. Hadirin yang hadir perbandingannya cukup seimbang antara kaum pria dan wanita.  Pembahasan cemerlang dipicu oleh wawasan dari Soe Tjen dan Kath membuat malam berlalu terlalu cepat.  Silahkan membaca artikel tentang malam ini di c2o-library.net 
 
Toko Buku Gramedia Expo menjadi tuan rumah peluncuran Menantang Phoenix di Surabaya. Disini aku bertemu dengan Ibu Ossi, pemimpin klub buku Surabaya, salah satu klub buku pertama di Indonesia. Menyenangkan sekali bahwa saat ini banyak ibu rumah tangga membaca untuk kesenangan.
 
Acara penutup dari wisata buku peluncuran Menantang Phoenix adalah ceramah terbuka di Universitas Petra. Banyak terima kasih kepada Ibu Meilinda, dan Bapak Aditya Nugraha atas sambutan  hangat dan perhatian yang diberikan terhadap karyaku. Kurang lebih 75 mahasiswa hadir di acara ini. Mereka mendengarkan ceramahku  dengan penuh perhatian dan meluncurkan banyak pertanyaan mengenai disiplin menulis serta kehidupan penulis.
 
Sesudah acara aku di wawancarai oleh wartawan-wartawan dari surat kabar Kompas, Java Pos dan Antara. Aku juga tampil di Suara Mitra dan Radio Sonora Surabaya.
 
Dengan demikian, wisata buku peluncuran Menantang Phoenix telah selesai. Tetapi tugas untuk turut mengambil bagian dalam pembangunan Tanah Air baru mulai.

Baca selandjutnya…